Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat
penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa
membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini
sungguh sangat berbeda. Memang jumlah KTP yang tertulis beragama Islam
ratusan juta di negeri ini. Jumlah masjid juga ribuan baik berkapasitas besar
maupun kecil. Tapi ironisnya tak sedikit kita jumpai masjid-masjid sepi ketika
datang waktu shalat. Kita berusaha berbaik sangka bahwa mereka yang tidak
shalat berjamaah di masjid akan shalat sendiri di rumah tapi faktanya betapa
banyak yang ketika magrib masih hiruk pikuk berteriak “goal!!!” di tribun
lapangan sedangkan panggilan Allah tak sedikitpun dihiraukan. Tak sedikit pula
yang ketika masuk adzan subuh masih lelap dalam mimpi, ada yang sengaja tak
sadarkan diri, berpura-pura menggigil walau gemuruh adzan bersautan
memanggil. Juga ketika masuk waktu dhuhur tetap tersibukan dengan
pekerjaan sama sekali tak hiraukan adzan dhuhur. Telah terlupakan bahwa
ia akan masuk liang kubur.
Pandangan Ulama Tentang meninggalkan shalat fardhu
Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum
muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah
dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh,
merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang
yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta
mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah-
berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa
meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa
alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)
Imam Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahwa tidak
ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang
meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan
shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana
kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada
perbedaan pendapat (Nailul Author, 1/369).
Ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar. Ini
seharusnya menjadi perhatian kaum muslimin agar takut ketika meninggalkan
ibadah shalat wajib.
Pandangan Al Qur’an dan Al Hadits terhadap ditinggalkannya
shalat fardhu
Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ
فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan
menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa “ghoyya”
dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat
menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)
Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di
Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat
(hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya
bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana
tempat orang muslim yang berdosa. Tetapi tempat ini (ghoyya) yang
merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun
tempat orang-orang kafir. Begitu ngerinya siksaan dari Allah. Masihkah kita
meninggalkan shalat ?
Mengutip dalam sebuah hadits :
“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan
kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah,
kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti
melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril
menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat
fardhu”. (H.R Tabrani)
Kurang menakutkankah dalil ini ? Masihkah kita meninggalkan shalat
?
Shalat adalah bentuk penghambaan kita sebagai makhluk yang lemah,
makhluk yang tak berdaya. Sujud kita ketika shalat menunjukkan bahwa kita
begitu kecil, kita memuji dan meninggikan Sang Maha Tinggi Allah SWT. Jika kita
meminta begitu banyak kepada Allah begitu sulitkah kita menuaikan perintah
Allah yang begitu ringan. Mari lawan kemalasan, lawan bisikan setan la’natuLLah
sehingga mudah bagi kita menuaikan shalat. Masihkah kita meninggalkan shalat
setelah membaca tulisan ini?

0 comments:
Post a Comment